23 Juni 2018

Belum punya akun? Silahkan mendaftar

Berita Rekomendasi

Jika Benar, Eks Konsesi PT IBP Sudah Renggut 3 Nyawa Anak-Anak


Jika Benar, Eks Konsesi PT IBP Sudah Renggut 3 Nyawa Anak-Anak
Lokasi lubang bekas galian tambang batu bara yang menjadi tempat Wilson tenggelam. (Foto: Ist)

KLIKTENGGARONG.COM - Tewasnya Wilson (17) di lubang bekas galian batu bara, menambah catatan hitam perusahaan-perusahaan tambang. Bahkan, jika terbukti benar lokasi kejadian milik PT Insani Bara Perkasa (PT IBP) --dengan kontraktor PT Surya Teknik Anugrah (PT STA)-- maka PT IBP sudah merenggut 3 nyawa anak-anak di Kutai Kartanegara.

"Dari informasi sementara, lahan konsesi diduga milik PT IBP dengan kontraktor PT STA. Tetapi, kami masih harus memastikan dengan hasil over lay titik koordinat. Jika memang sesuai koordinat, Insani mencetak hattrick 3 nyawa tewas di lahan konsesinya. Dan semuanya anak-anak. Jadi top score," ujar Dinamisator Jaringan Advokasi Kalimantan Timur, Merah Johansyah Ismail.

Kata Merah, Jatam Kaltim mencatat, Wilson menjadi korban ke 24. "Jika ditotal dengan Arham, meskipun Arham terjatuh di gundukan batubara panas, ada 24 korban jatuh. Nah, dalam 5 bulan di tahun 2016 hingga Mei sudah ada totalnya 6 nyawa. Empat di antaranya anak-anak. Dua lainnya bukan di lubang tambang. Dalam 5 bulan di tahun 2016, ada korban dewasa maupun anak-anak," ungkapnya.

Jatam Kaltim juga menyayangkan, di tengah berjatuhannya korban, Gubernur Kaltim, Awang Faroek Ishak, justru berencana berangkat ke Rusia. Jatam Kaltim mendesak Faroek agar membatalkan rencana tersebut dan lebih berkonsentrasi kepada permasalahan masyarakatnya.

"Kami justru menyayangkan di tengah-tengah kasus korban lubang tambang yang terus berjatuhan, gubernur justru berencana berangkat bersama rombongan ke Rusia. Ini sangat memprihatinkan di tengah kondisi rakyatnya yang demikian. Kami minta gubernur turun ke lapangan dan membatalkan rencana ke Rusia. Harus ada sanksi yang tegas. Lagi pula, urus dulu lah masyarakat," cetus Merah. (*)

Reporter : Becky    Editor : Azrah Al Uzairy



Comments

comments


Komentar: 0